Dengarlah Apa yang Ada di Balik Kata-kata

oleh: lurah.labiba

Di dalam komunikasi, selalu tersedia banyak materi yang berseliweran menunggu ditangkap. Bukan hanya pihak “yang-menerima-ucap” saja yang harus berusaha menangkap materi itu, namun “yang-bicara” juga senantiasa sibuk berusaha melakukannya. Setiap Anda bicara, sejumlah materi ide berdesakan di batin Anda. Ide-ide ini muncul bukan sebelum Anda bicara akan tetapi serentak dengan Anda mulai bicara. Artinya, sebelum Anda bicara, barangkali Anda hanya punya satu ide, dan dengan itulah Anda merangkai ucap, namun, begitu Anda memilih satu “morfem” tertentu untuk mengawali ucapan Anda, beterbanganlah ide-ide mengiringi morfem itu. Demikian rumit dan cepatnya proses ini, sampai Anda tak memikirkannya. Apa yang terjadi setelah itu ialah Anda selalu disandera oleh setiap morfem, setiap kata, setiap kalimat, bahkan setiap pola kalimat, yang Anda pilih. Demikianlah yang terjadi pada orang yang, misalnya, sengaja atau tak-sengaja dalam bicara melakukan hamming; apa namanya; ketika blabla, maka blabla; sulit melepaskan diri dari penjara-penjara itu. Artikel, assessori dan pola —kemudian— menjadi gurita yang mencengkeram pikiran Anda, memaksanya membentuk ucap yang selalu seragam.

Wa ba`du, ada banyak ide yang tersembunyi di balik setiap ucap. Jika Anda menangkapnya melalui arti tiap potongan kata dan memadukannya dalam kalimat utuh, Anda akan menangkap makna strukturalnya. Itu sudah cukup untuk berkomunikasi dengan baik. Tapi bukan untuk mengenali dengan lekat motif dan maksudnya. Maka, ingatlah pesan Sang Buddha, “dengarlah apa yang ada di balik kata-kata.”

5 thoughts on “Dengarlah Apa yang Ada di Balik Kata-kata

  1. halo, labiba (maaf saya ga tahu apakah ini nama orang atau nama jemaat), yang jelas saya senang dengan namanya: laku-bijak-bajik.
    saya juga senang dengan interesnya: spiritual, bukan hjanya intelektual.
    selamat ya, labiba. semoga sukses
    salom

  2. boleh nanya neh..
    agak rumit dipahami isinya. pertama, apa yang ada di balik kata-kata itu kan bukan suara, bagaimana mungkin kita harus mendengarnya. kedua, apakah sang Buddha mengajarkan itu untuk berkomunikasi, ataukah untuk kepentingan meditasi spiritual?
    mohon penjelasannya, guru..

    • terimakasih pertanyaannya, ezra.
      secara umum ajaran sang Buddha memang berbasis spiritualisme. saya kira pada mulanya ini ajaran bagi spiritualis pemula sebagai gerbang awal menuju kebijaksanaan. makanya, atman menjadi unsur penting dalam menangkap semua gejala. jadi, mendengar apa yang di balik kata-kata pasti tidak dengan telinga akan tetapi dengan jiwa.
      semoga dapat memperjelas.
      terimakasih.

  3. hai labiba….
    salam kenal,maw tanya ne…
    sering saya ta’ mengerti apa yang dikatakn seorang yang diajak bicara…
    biasanya sya harus punya konsentrasi yang tinggi ketika sya mendengarkan orang yg sdg berbicara…
    itu karna faktor apa???
    apa karna sya nya yg lemot…
    bgitu juga ktika q membaca buku, sya harus konsen penuh…
    mhon mativasi nya…syukron labiba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s